P E M U D A

IMG00639-20130615-1001

Berbicara tentang pemuda rasanya tidak akan pernah ada habis nya.Penuh dengan segudang cerita,tentang prestasi,kenakalan ,patriotis,dan apa pun itu semua tidak terlepas  dari peran pemuda.

Dalam era Globalisasi seperti sekarang ini pemuda dituntun lebih kreatif,dan harus memiliki rasa tanggung jawab yang besar,mampu mengisi sektor-sektor penting dalam pembangunan saat ini.

Sungguh sangat disayangkan fenomena yang terjadi saat ini loyalitas,dan rasa memiliki yang ada dalam jiwa IMG00627-20130615-0807pemuda sudah mulai luntur,terkikis oleh arus moderenisasi dan budaya-budaya asing yang notabene berpengaruh negatif.Tidak ada lagi ide-ide kreatif yang muncul,mereka kerap melakukan tindakan-tindakan yang menyimpang dari nilai-nilai budaya,etika,bahkan sudah tidak lagi menghiraukan tuntunan agama.yang pada akhirnya sektor-sektor penting dalam pembangunan hanya di isi oleh orang-orang tua yang sudah kurang produktif.

Disadari atau tidak ini berpengaruh terhadap pembangunan yang ada ,pembangunan menjadi lambat bahkan cenderung monoton .Tidak ada lagi prestasi yang bisa dibanggakan yang muncul dari tangan – tangan para pemuda.Antara pemuda dan orang tua sudah tidak ada lagi kesinambungan ,struktur organisasi hanya sebuah nama belaka tanpa ada kegiatan yang jelas dan terstruktur dengan baik.

Kalau sudah begini hanya tinggal menunggu waktu nya saja,bangsa kita akan terpuruk,tak bernilai,dan habis ,tidak ada lagi yang takut dengan cakar-cakar garuda,merah putih akan selamanya lusuh dan tidak mampu untuk berkibar di langit kejayaan,UUD 45 hanya akan menjadi sebuah alkitab yang tersimpan di musium,bambu runcing tak lagi tajam,suara Bung Tomo sayup -sayup akan hilang dan tak terdengar lagi.

Masih ada waktu untuk memperbaikinya. Tanggung jawab kita semua untuk merubah sikap mental generasi muda agar kembali kedalam jalur nya.Terutama fungsi Orang Tua dalam  menanamkan dasar dasar Pendidikan yang sesuai dengan akar budaya bangsa kita.

@-pot

Advertisements
Posted in Uncategorized | Leave a comment

PERMAINAN ANAK-ANAK JAMAN DULU

Jadi teringat lagi 25 tahun kebelakang saat usia kami masih belasan tahun dan masih duduk di bangku Sekolah Dasar.

Hidup di desa yang jauh dari keramaian kota memaksa kami untuk hidup sederhana termasuk permainan-permainan yang biasa kami mainkan ,permainan yang menggunakan bahan-bahan seadanya,yang memang banyak ditemukan disekitar rumah kami,

Tapi walau demikian kami senang memainkan nya karena disamping asik,juga membuat otak dan fisik kami terlatih,kebanyakan permainan kami adalah permainan ketangkasan yang kadang agak sedikit extrim.

Baik lah hitung-hitung mengenang masa kecil,gak ada salahnya kami coba tuliskan apa saja sih permainan kami dulu ?? :

1. BAREN

Permainan ini lebih ditekankan pada keahlian berlari dan berkelit,cara bermainnya yaitu terbagi 2 kelompok,masing-masing kelompok terdiri dari 5 atau lebih sesuai jumlah anak yang terkumpul saat itu.masing-masing kelompok memiliki home base sendiri-sendiri,biasanya berjarak 10 m atau lebih.

Pemenang ditentukan bila salah satu kelompok berhasil menangkap semua anggota kelompok lawan nya.

2.GAMPAR ( Sorodot Gaplok )

Permainan ini memakai Batu sebagai alat nya.sama seperti baren terdiri dari 2 kelompok,setiap anak harus memiliki keahlian dalam melempar dan mengayun batu.Dimensi batu nya berdiameter 100 mm dengan ketebalan sekitar 30 ato 25 mm.

Lengkah Maung adalah tehnik yang paling menegangkan.karena disinilah keahlian si anak di uji,batu diletakan diatas punggung kaki nya kemudian diayun sambil melangkah dan di hentakan sampai mengenai batu  lawan yang telah dipasang berdiri,bila batu lawan berhasil di jatuhkan maka dia berhak membuang batu si lawan tersebut sejauh-jauh nya dengan cara diletakan di atas punggung kakinya kemudian di ayun,dengan bertumpu satu kaki dia harus berjalan sajauh-jauhnya sampai batu itu jatuh dengan sendirinya.bila batu itu sudah jatuh,maka giliran lawan nya untuk mengembalikan batu itu dengan cara yang sama dan mengikuti jalur si anak yang pertama sampai ke tempat asal.bila tidak berhasil mengemnbalikan ketempat semula maka dia dianggap kalah,dan hukumanya harus menggendong sipemenang.

4. Gatrik

Menggunakan media bambu sebagai alat mainnya,dengan ukuran panjang 30 sampai 35 cm sebanyak 2 bilah.Cara bermainnya yaitu satu bilah bambu di pukulkan kepada bambu yang satunya sejauh mungkin,dan harus dikembalikan oleh lawan dengan cara yang sama

5. Papadatian

adalah permainan yang terbuat dari bambu berbentuk mobil-mobilan dengan ban terbuat dari sandal jepit,cara mainnya di dorong menggunakan bilah bambu  sekaligus berfungsi sebagai kemudinya

6. Susumpitan

Adalah permainan dengan keterampilan menembak.diperlukan insting menembak yg bagus agar tepat mengenai sasaran.alat yang dipakai adalah bambu kecil atau biasa disebut sarengseng.dengan panjang 50 cm atau lebih.dengan mata runcing yg dibalut kapas sebagai pelurunya.cara mainnya dengan di tiup supaya peluru bisa keluar.

Masih banyak lagi permainan – per mainan kami dulu seperti sumput beling,udug sumput,perepet jengkol,pecle,dan lain sebagainya .\

yaa … itu hanya tinggal sebuah kenangan,tak pernah saya liat anak-anak sekarang memainkan nya,seiring kemajuan jaman dan teknologi yang semakin jauh berkembang.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

EKSISTENSI PEMUDA DI MASYARAKAT

sumpah-pemuda

“BERIKAN AKU 1000 ORANG TUA,NISCAYA AKAN KU CABUT SEMERU DARI AKARNYA,BERIKAN AKU 10 PEMUDA,NISCAYA AKAN KU GUNCANG DUNIA”

Sebuah seruan yang membakar semangat perjuangan dari seorang pemimpin besar revolusi,bapak Proklamator negri ini Ir.SOEKARNO

Coba kita renungkan dan maknai kata-kata beliau,sungguh memiliki makna yang luar biasa dan sekaligus menjadi cambuk bagi kita pemuda pemudi negri ini.

Sudah pantaskah kita disebut sebagai pemuda dan pemudi negri ini ????,masih adakah rasa NASIONALISME dalam dada kita ? disaat kita lebih bangga akan budaya-budaya bangsa luar yang kebanyakan merusak nilai-nilai moral dan identitas bangsa kita sendiri?

Kita kembali kedalam petikan kata-kata diatas,10 orang pemuda berbanding dengan 1000 orang tua. Satu perbandingan yang sungguh jauh sekali bukan ??? padahal menurut logika dengan jumlah yang semakin banyak, tentu akan semakin kuat.

Tapi ternyata tidak demikian menurut Soekarno.. kenapa..?

Karena pemuda adalah kekuatan yang harus diberdayakan..

Karena pemuda adalah ujung tombak yang harus senantiasa diruncingkan..

Karena pemuda adalah bilah pedang yang harus senantiasa diasah..

Mungkin dari kita sudah sering mendengar “Pemuda harapan bangsa”  atau “Masa depan Negeri ini ada dipundakmu wahai pemuda..!” dalam kata-kata diatas kita bisa menyimak, bahwa semua tanggung jawab kelangsungan dan kejayaan negeri ini berada di tangan para pemuda-pemudi.

Oke.. sekarang mari kita persempit lagi ruang lingkup kita, Mari kita lihat ke lingkup yang lebih kecil dulu sebelum kita merangkak ke wahana yang lebih luas. mari kita perhatikan peranan pemuda dalam lingkup pembangunan masyarakat Rt/Rw saja dulu. Peran pemuda sebagai elemen penting masyarakat dalam pembangunan, sudah sepatutnya memaknai dan mewarnai setiap gerak pembangunan diwilayahnya. Disinilah pentingnya pemuda memposisikan diri dan mengambil peran-peran strategis dalam pembangunan saat ini.
Dalam jejak rekamnya, pemuda acapkali dalam posisi sebagai pelopor pembaharuan, pelatuk perubahan sekaligus pengawal perubahan. Semangat perubahan yang menjiwai semangat desentralisasi mestinya menemukan titik yang sama dengan peran yang telah melekat dalam diri pemuda. Menterjemahkan peran-peran strategis yang memberi konstribusi bagi percepatan pembangunan wilayah menjadi pilihan yang tidak boleh berlalu tanpa pemaknaan dari pemuda.
Sudah sepatutnya, pemuda tidak lagi hanya dalam posisi berpangku tangan atau diam tanpa ada rasa kepedulian dan tanggung jawabnya terhadap kemajuan daerahnya. Pemuda lah yang harus menjadi pelopor dari setiap gerak langkah kemajuan untuk pembangunan masyarakat.

Padahal jika Rt/Rw dan Desa mampu dikelola dengan baik, sejatinya desa bisa menjadi motor penggerak ekonomi suatu negara. Menurut catatan saat ini tingkat urabanisasi dari desa ke kota sungguh sangat tinggi. Ini semua disebabkan karena faktor ekonomi yang menggeliat serta daya tarik gemerlapnya kota menjadi magnet tersendiri yang membuat banyak orang lebih memilih tinggal di kota.

Akhirnya, saat ini desa ditinggalkan oleh penduduknya, terutama yang berusia muda yang kebanyakan merantau ke kota. Bisa dihitung, berapa banyak pemuda dari desa yang kuliah di kota, kemudian setelah lulus memilih berkarir di kota. Akhirnya, desa lebih banyak dihuni orang-orang tua, yang berprofesi sebagai petani, pekebun, dan sebagainya. Padahal kemajuan suatu desa memerlukan urun tangan para pemudanya. Dari sinilah sudah waktunya kita menghapus paradigma di masyarakat kebanyakan beranggapan bahwa di kota lebih mudah mencari uang dibanding di desa. Jelas hal ini harusnya menjadi perhatian, bagi pemerintah, masyarakat, atau mungkin suatu organisasi kemasyarakatan. dan bagi para pemudanya sendiri. Potensi di pedesaan jauh lebih besar. Meskipun fasilitas infrastrukturnya masih kurang. Masing-masing desa memiliki karakter tersendiri yang membedakannya dengan desa lain. Ada desa yang berpotensi sebagai desa bahari, desa wisata, desa wisata pegunungan, desa wisata pantai, desa wisata hutan, desa pertanian, desa perkebunan, desa peternakan, desa perhutangan, dan sebagainya. Kalau mampu dikelola dengan baik, tentunya kemakmuran warga desa bisa meningkat. Pada akhirnya, apabila desa mampu berdiri secara mandiri, artinya segala macam produknya tidak harus disuplai dari kota, maka kemakmuran pun akan datang ke desa.4681208499_9248357717

Inilah harapan saya, marilah kita sebagai pemuda dan pemudi yang saat ini kebetulan masih berada di wilayah atau desa nya masing-masing, mari bangkit menjadi motor penggerak bagi masyarakat menuju masyarakat maju dan berkembang. mari gali potensi-potensi yang sesungguhnya telah menjadi harta kekayaan desa itu sendiri sehingga bisa lebih produktif dan menjadi tulang punggung kemakmuran negara secara lebih luas. jangan terburu-buru untuk meninggalkan kampung halaman mu dan beranjak ke kota. mari bangkit dan goncangkanlah dunia. (DS)

Posted in Social & Culture | Tagged , , , | Leave a comment

ANGKLUNG SERED TASIKMALAYA

angklungANGKLUNG SERED TASIKMALAYA

Selayang pandang melihat dan mengingat ke belakang, dimana usia saya masih kanak-kanak tiba-tiba saya teringat sebuah seni  warisan budaya leluhur kami yang sangat saya kagumi karena irama dan gerakannya memiliki semangat yang luarbiasa.

Kesenian itu disebut ANGKLUNG SERED,yang mana kesenian itu sekarang sudah hampir hilang dan dilupakan oleh generasi muda sekarang yang lebih menyukai budaya luar daripada budaya bangsanya sendiri (  sungguh sangat disayangkan )

Pada masa penjajahan belanda sekitar tahun 1918 angklung digunakan ..Lanjutkan baca

Aside | Posted on by | Tagged , , | Leave a comment

PAUD sebagai PEMBENTUK KARAKTER

LOGO PAUDAda beberapa hal yang kami Paguyuban Kebon cengkeh temukan setelah berdirinya sarana Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang telah kurang lebih sekitar 2 tahun di wilayah kami, ternyata ada beberapa hal yang menjadi permasalahan dalam segi pemahaman masyarakat akan inti tujuan PAUD itu sendiri. dimana kebanyakan masyarakat masih mempunyai anggapan bahwa PAUD adalah suatu sarana pendidikan yang mengharuskan anak-anak didiknya bisa menguasai ilmu-ilmu pengetahuan seperti halnya baca dan tulis, berhitung, dan ilmu-ilmu pengetahuan yang seharusnya belum saatnya mereka menguasainya.

Padahal ..lanjutkan baca

Posted in Education | Tagged , , , , | Leave a comment

Asah, Asih, Asuh

Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh (Trilogi karuhun sunda)

Seperti halnya “Gemah, Ripah, Repeh, Rapih”, “Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh“ juga menjadi semacam falsafah hidup untuk suku Sunda. Disampaikan secara turun temurun, agar kelak orang sunda dapat menjadi suku yang maju, berwawasan, juga hidup tentram dalam aktivitas interaksi sosialnya. Ketiga kata ini sangat bermakna bagi suku sunda: Silih asah, silih asih, silih asuh yang berarti: saling mengajari, saling mengasihi, dan saling mengayomi.

Asah

Secara harfiah Asah dalam bahasa sunda berarti mempertajam. Arti ini sama dengan arti sesungguhnya salam bahasa Indonesia dan secara konotatif mempunyai arti setara dengan “Ajar”. Silih asah, mempunyai makna saling bertukar ilmu, satu sama lain mengajarkan apa yang dia ketahui dan kuasai.

Asih

Asih mempunyai padanan kata dalam bahasa Indonesia, “kasih”. Silih asih berarti saling mengasihi, saling mencintai satu sama lain. Memberi perhatian, afeksi dan kasih sayang. Satu sama lain menunjukan kepeduliannya, memberikan apa yang dibutuhkan dengan tulus.

Asuh

Kata asuh ini sudah diserap secara menyeluruh dalam bahasa Indonesia dengan makna yang sama pula tentunya. Silih Asuh, saling mengasuh, mengayomi, membimbing satu sama lain. Menjaga agar tetap pada jalan yang diyakini benar, secara tradisi, hukum, dan paling utama secara agama. (yoe)

Posted in Uncategorized | 2 Comments